Review Movie 1 - Midsommar
Saya yakin pembaca sudah tidak asing lagi dengan film satu ini. Film Garapan Ari Aster ini tidak kalah menyeramkannya dengan film buatannya yang sebelumnya, Hereditary. Film Midsommar ini sendiri menceritakan Dani Ardor (diperankan Florence Pugh) yang mengalami trauma karena kematian seluruh anggota keluarganya. Trauma Dani juga memperburuk hubungannya dengan sang kekasih, Christian Hughes (diperankan Jack Reynor). Nah, kisah menyeramkan mereka baru dimulai ketika salah Dani mengetahui kalau Christian bersama temannya (Mark dan Josh) diundang oleh teman mereka dari Swedia, Pelle, untuk menghadiri perayaan pertengahan musim panas (midsommar) di desa leluhur Pelle, Hårga, di Hälsingland. Christian yang sempat bertengkar karena tidak memberitahu Dani memutuskan untuk mengajaknya sebagai permintaan maaf.
Kejadian menyeramkan dan juga aneh mulai terjadi semenjak Dani cs sudah tiba di Hårga. Mulai dari ritual yang mewajibkan dua tetua desa bunuh diri dengan melompat dari tebing (Dan, salah satu tetuanya masih belum meninggal setelah jatuh dari tebing. Kepalanya kemudia dipukul dengan palu oleh salah satu warganya. Bagi yang tidak terbiasa dengan darah, siapkan mental kalian saat melihat adegan ini), ritual berhubungan badan yang dihadiri gadis-gadis dari desa Hårga (Yup, bayangkan saja kalian sedang berhubungan badan dan diperhatikan oleh banyak orang. Belum lagi yang menonton kalian malah ikut merasakan apa yang kalian rasakan selama berhubungan badan). Tidak adanya jumpscare dan juga sosok supernatural dalam film ini, membuat film ini unik jika dibandingkan dengan film lainnya. Point horror yang ada dalam film midsommar ini menurut saya terletak pada adegan-adegan yang aneh dan juga menjijikan. Saat pertama kali menonton film ini, saya merasakan perasaan yang berbeda ketimbang menonton film horror dengan jumpscare atau sosok supranatural. Saya merasa jijik, bingung, dan marah saat pertama menonton film ini. Bagi kalian pencinta film horror dengan sedikit gore genre, mungkin kalian akan suka dengan Midsommar.
Menurut saya pribadi, Midsommar masih belum bisa menyaingi film terdahulunya, Hereditary. Tapi, film ini tetap menarik untuk ditonton. Tapi, saya sarankan bagi pembaca yang dibawah umur untuk jangan menonton film ini. Adegan yang tergolong vulgar dan sadis bisa merusak otak dan psikologis bagi anak dibawah umur. Tapi, bagi kalian yang memang sudah biasa menonton film horror berbalut gore, saya rekomendasikan untuk menonton film ini. Jalan ceritanya menarik dan membuat penasaran. Perlu lebih dari 2 hari buat saya untuk bisa move on dari film ini, karena jalan cerita dan adegan-adegan yang memang unik.
Good Aspect of Midsommar Based on My Opinion:
1. Ceritanya unik, berbeda dari film horror kebanyakan.
2. Tidak akan mudah bosan, karena di bagian awal film saja sudah membuat penasaran.
3. Acting pemainnya yang meyakinkan.
4. Penampilan visual yang bisa memanjakan mata sekaligus membuat kita merinding.
Bad Aspects of Midsommar Based on My opinion:
1. Adegan-adegan yang kadang dilebih-lebihkan, sehingga terkesan animatis.
2. Tempo ceritanya termasuk lamban.
3. Plot cerita yang membingungkan bagi sebagian orang.
Oke, mungkin itu saja review saya kali ini untuk film Midsommar ini. Have Fun watching!
Njir jadi pengen nonton 🤟🙂
BalasHapus